Ambon, Pena-Rakyat.com – “Semakin aku banyak membaca, semakin aku banyak berpikir; semakin aku banyak belajar,..”(Voltaire).
Publik penyuka sastra dan filsafat tidak asing lagi dengan Simone de Beauvoir. Ia sosok perempuan berkebangsaan Perancis, yang dikenal multi talenta, dimana tidak hanya populer sebagai sastrawan dan filsuf, tapi juga adalah aktifis perempuan terkemuka pada zamannya. Dalam bidang filsafat, ia dikenal luas dengan aliran feminisme eksistensialisme.
Feminisme eksistensialis adalah aliran dalam gerakan feminisme yang berakar pada prinsip-prinsip filsafat eksistensialisme. Aliran ini secara khusus mengkaji dan menelaah struktur sosial yang membatasi kebebasan individu perempuan, serta menyoroti pentingnya kebebasan tersebut dalam berbagai aspek kehidupan.
Sentral dalam pemikiran feminisme eksistensialis adalah pandangan bahwa perempSauan bukan hanya sebagai objek dalam masyarakat, melainkan juga sebagai subjek yang memiliki keberadaan dan kepentingan yang unik.(Setyo, et.all, 2021).
Feminisme eksistensialisme yang dikembangkan Simone de Beauvoir menjadi salah satu teori penting dalam kajian perempuan, terutama dalam konteks sastra dan budaya patriarkal.
Relevan, Estri (2024) mengatakan bahwa, dalam konteks karya sastra, teori feminisme eksistensialis digunakan untuk menganalisis bagaimana karakter perempuan direpresentasikan dan bagaimana mereka mengalami atau melawan objektivikasi.
Menurutnya, tokoh perempuan digambarkan bukan hanya sebagai objek pasif, tetapi juga sebagai subjek yang mempunyai kesadaran dan perjuangan untuk meraih kebebasan.
Penelitian terbaru menunjukan bahwa melalui analisis narasi, dialog, dan karakterisasi, dapat diungkap bentuk-bentuk objektivikasi serta strategi perempuan dalam merebut eksistensi mereka.
Salah satu karya Simone de Beauvoir, yang relevan dengan pemikiran feminisme eksistensialisnya yakni, tiga cerita panjang tentang tiga perempuan, berjudul : “Perempuan yang Dihancurkan”, penerbit Narasi tahun 2024, jumlah 342 halaman.
Karya ini diterjemahkan dari “The Woman Destroyed”, yang diterbitkan Pantheon Books, New York, Amerika Serikat di tahun 1969 lampau.
Tiga kisah panjang ini, seperti dipaparkan singkat di back cover buku ini, dimana menyeret kita dalam kehidupan tiga perempuan, melewati masa-masa muda, menghadapi krisis yang tak terduga-duga.
Ada perempuan tercabik-cabik perselingkuhan suaminya. Ada yang lambat laun tertekan karena perilaku sang anak, dan ada yang frustasi serta gusar dalam kesendiriannya.
Hadir pertanyaan dan pernyataan yang substansial, apakah menjadi perempuan berarti menjadi masalah itu sendiri ? Bahkan jika sang perempuan meraih sukses dalam karier, keuangan, dan kehidupan intelektual ? Sebagai kisah-kisah ini memikat, menggelar wawasan yang luar biasa dari Simone de Beauvoir untuk perempuan.
Karya perempuan multi talenta berkebangsan Prancis ini, tentu menarik dibaca oleh khalayak yang menggandrungi sastra, dan filsafat, serta para perempuan yang memiliki komiteman serius dalam aspek feminisme.
Mengakhirinya, meminjam ungkapan François-Marie Arouet (1694-1778), filsuf berkebangsaan Perancis, yang populer dengan nama pena Voltaire bahwa, “semakin aku banyak membaca, semakin aku banyak berpikir; semakin aku banyak belajar,..”.
Oleh: Dr. M. J. Latuconsina.,S.IP.,MA
(Staf Dosen Fisipol UNPATTI Ambon)
