Resensi: Histografi Politik dan Islamisasi Jawa

by -0 views

Ambon, Pena-Rakyat.com – “Bagiku perjuangan harus tetap ada.”..(Soe Hok Gie). “Dalam hidup nyata dan dalam perjuangan yang tak mudah,”..(Gus Dur).

Lazimnya resensi sebuah buku, yang diketengahkan ke khayalak adalah buku yang baru diterbitkan.

Berbeda dengan buku ini, sebenarnya merupakan sebuah karya lawas Merle Calvin Ricklefs (1943-2019), yang populer dengan nama M.C.Ricklefs.

Pertama kali karya Ilmuan Australia kelahiran Amerika Serikat ini terbit dalam bahasa Inggris, dengan judul : “Islamisation and Its Opponents in Java – A Political, Social, Cultural and Religious History, c. 1930 to Present”, terbitan NUS Press Sinagpore, tahun 2012.

Mengapa saya baru membuat resensinya?, karena menghunting buku ini begitu lama. Pertama kali mengetahui buku ini, saat diposting teman kuliah saya di Sekolah Pascasarjana (S2) Ilmu Politik, Universitas Gadja Mada (UGM), angkatan 2005 di grup wattshap alumni di tahun 2023 lalu.

Rupanya membuat saya kepincut, ingin sekali memiliki buku dari Indonesianis, yang pernah mengajar di Monash University Australia tersebut.

Kebiasaan saya jika mengunjungi suatu kota, baik itu kota sedang hingga besar di tanah air, akan meluangkan waktu pergi ke tokoh buku untuk menghunting buku-buku bertema politik, sejarah, filsafat, biografi, dan sastra.

Pernah saya ke Kota Surabaya di penghujung tahun 2024, mamprilah saya ke Gramedia Tunjungan Plaza (TP) 1 Lantai 4, Jl. Basuki Rahmat.

Buku karya sejarawan yang memiliki tersis berjudul : “Jogjakarta under Sultan Mangkubumi (1749-1792)” tersebut terpajang di rak-rak buku Gramedia TP Surabaya bagian belakang sisi kiri.

Saya tertarik untuk membeli buku itu, tapi diurungkan mengingat sudah tiga buku saya beli, dan buku ini begitu tebal.

Tas ransel troli saya yang kecil tidak bisa menampung buku itu bersama tiga buku, dan pakaian didalamnya.

Jika di paksakan dengan tentengan lainnya dipasti over bagasi di Djuanda Airport Surabaya, saat hendak menuju Pattimura Airport Ambon.

Barulah dua tahun kemudian, pada Maret 2026 karya lawas pakar sejarah dan kajian kontemporer Indonesia ini bisa sampai di tangan saya.

Saya membelinya melalui salah satu lapak shopee. Ada rasa senang saat buku ini sudah dimiliki, karena relevan dengan ilmu politik (Politikwissenschaft), yang merupakan basic kesarjanaan magister (S2) saya.

Bagi saya ini suatu perjuangan, yang tidak mudah mendapatkan sesuatu yang bermanfaat yakni, ilmu pengetahuan (wissenschaft).

Pada titik ini ada benarnya penggalan ungkapan Abdurahman Wahid/Gus Dur (1940-2009) Presiden Republik Indonesia (RI) ke-4 bahwa, “Dalam hidup nyata dan dalam perjuangan yang tak mudah”,.

Senada pada penggalan ungkapan Soe Hok Gie (1942-1969) aktifis Indonesia berdarah Tionghoa di tahun 1960-an bahwa, “Bagiku perjuangan harus tetap ada.”..

Buku yang dialihbahasakan dari Inggris ke Indonesia, dengan judul : “Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 Sampai Sekarang”, karya M.C. Ricklefs, terbitan PT. Bentara Aksara Cahaya (BACA).

Tahun 2023 menarik perhatian khalayak, khususnya bagi mereka yang menyukai aspek sejarah dan Islam di tanah Jawa, yang relevan dengan perpolitikan yang resonansinya melampaui wilayah, yang memiliki populasi penduduk terbanyak di Indonesia tersebut.

Seperti narasi singkat pada cover belakang buku karya Indonesianis asal Australia ini, hadir dengan pertanyaan-pertanyaan yang kritis. Islamisasi Jawa? Mengapa tema ini sangat penting ? Antara lain karena suku Jawa merupakan salah satu kelompok etnis terbesar di dunia muslim.

Dengan sekitar 100 juta dari hampir 250 juta penduduk Indonesia, etnis Jawa sekaligus merupakan suku terbesar di Indonesia.

Karena itu, etnis Jawa memainkan peran penting dalam berbagai dinamika Indonesia sejak dari sosial, budaya, agama, ekonomi, dan politik dalam periodisasi sejarah nusantara.

Meski demikian, banyak kalangan di dalam maupun luar negeri melihat sebagian besar Muslim Jawa hanyalah abangan atau “Islam KTP“. Masih absahkah anggapan tersebut?

Sejarawan terkemuka Ricklefs membantah anggapan itu secara meyakinkan dalam karya mutakhirnya ini. Islamisasi masyarakat Jawa terus berlanjut sejak kemunculan Islam dalam masyarakat Jawa pada abad ke-14.

Ia menunjukkan bahwa tanah Jawa kini makin “hijau“: Islamisasi mengalami pendalaman dan proses ini tak bisa diabaikan.

Buku kaya data (dari bergam literatur, primer dan sekunder, juga wawancara sensus dan survei) ini mengupas bagaimana masyarakat Muslim Jawa melewati masa sulit sejak awal penyebaran Islam, penjajahan kolonialisme Belanda dan Jepang, periode kemerdekaan, pemerintahan Presiden Soekarno yang kacau, totalitarianisme Presiden Soeharto, dan demokrasi kontemporer.

Bagaimana masyarakat Muslim Jawa menempuh berbagai perubahan itu, kini menjadi contoh luar biasa dalam hal peningkatan religiositas keislaman.

Tentu saja, proses Islamisasi itu tidak bergerak lurus (linear), tapi panjang dan berliku. Kendati demikian, temuan ilmuan kelahiran Amerika Serikat itu, dimungkinkan terbantahkan dengan hadirnya novelty (temuan terbaru) pada penelitian selanjutnya, dengan gap riset yang minim.

Hal ini mengingat peneltian dalam ilmu sosial (Sozialwissenschaften) dalam perspektif pos positifisme sangat dinamis. Sehingga bisa mengalami falsifikasi yakni, pengguguran teori.

Kondisi ini seperti digambarkan Karl Raymund Popper (1902-1994) filsuf asal Austria bahwa, suatu teori ilmiah tidaklah terbukti keilmiahannya hanya dengan pembuktian saja, tapi harus diusahakan mencari kesalahan dari teori tersebut sampai kemudian teori tersebut bisa difalsifikasi.

 

Oleh: Dr. M. J. Latuconsina,.S.IP,.MA

(Staf Dosen Fisipol, UNPATTI Ambon)