Ambon, Pena-Rakyat.com – Pasukan Komando Katolik (Paskokat) sendiri adalah satuan tugas Pemuda Katolik yang diresmikan oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. A Djajasepoetra, SJ di Lapangan Banteng Jakarta sebagai antisipasi serangan balik PKI pasca Gerakan 30 September 1965.
Dalam upacara singkat peresmian Uskup Agung Jakarta Mgr. A Djajasepoetra, SJ dikawal anggota Paskokat menaiki mobil dari Wisma Keuskupan menuju Lapangan Banteng dalam situasi yang masih genting. Dikutip dari media indonesia “Paskokat akan menjadi motor penggerak gerakan-gerakan kemanusiaan Pemuda Katolik, mulai dari tanggap bencana, advokasi sosial, hingga keterlibatan dalam gerakan kebangsaan.
Ini bukan sekadar pelatihan fisik, tetapi proses kaderisasi untuk melahirkan patriot muda Katolik yang peka, tangguh, dan siap pakai di masyarakat,”
Pembentukan Paskokat (Pasukan Komando Katolik) dan Apakah Paskokat Ini Masuk Dalam Ormas Katolik Yang Mengcounter Kekerasan atau Ormas Katolik Yang Keras?
Kita ketahui bersama bahwa Ormas Paskokat Sebagai Ormas antisipasi serangan organisasi underbow PKI, semuga gereja di seluruh Keuskupan Agung Jakarta dijaga Pemuda Katolik.
Untuk itu secara khusus didirikan satgas Pemuda Katolik Komda Jakarta yang diberi nama Pasukan Komando Katolik (Paskokat). Pada saat pembentukan terdiri dari 150 anggota Paskokat dan dilantik dalam upacara resmi oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. A Djajasepoetra, SJ di Lapangan Banteng.
Namun, saya melihat bahwa sebagai anak katolik biasa, pada saat ini Ormas Paskokat dipakai sebagai Underbow kepentingan segilintir kelompok atau individu di Politik.
Apakah ada pergeseran nilai–nilai kekatolikan?
Pada Asian Youth Day ke 7 yang dilaksanakan di Yogyakarta pada bulan Agustus tahun 2017, Orang Muda Katolik menyatakan bahwa sebagai kaum milenial, mereka hidup di era globalisasi serta perkembangan teknologi yang begitu pesat, yang penuh dengan tantangan. Berbagai tantangan yang dihadapi mempengaruhi rasa percaya diri dan perkembangan serta penghayatan iman Katolik mereka.
Mereka merasakan bahwa intoleransi, konsumerisme dan berbagai ketagihan yang mereka hadapi mempengaruhi rasa kedekatan mereka dengan Tuhan dan penghayatan mereka akan iman Katolik mereka. Di AYD ke 7 tersebut mereka menyerukan bahwa mereka membutuhkan bantuan dan pendampingan agar mereka mempunyai kemampuan untuk menghadapi aneka tantangan.
Di AYG ke 7 tersebut Orang Muda Katolik juga menyatakan bahwa perjumpaan multicultural dapat memampukan mereka melihat iman mereka dalam terang yang baru yang mengobarkan semangat mereka dengan berkat Roh Kudus mereka mampu menerangi dunia. Sesuai dengan seruan Bapa Suci Fransiskus yang menekankan bahwa pendidikan Katolik kini dan kedepan perlu terus dibenahi dan diperbaharui.
Hal ini dikarenakan sekolah Katolik menghadapi tantangan untuk secara terbuka dan berperan aktif dalam menanggapi berbagai persoalan umat manusia di masa sekarang dan yang akan datang. Desain kurikulum dengan kearifan lokal dan dialog semesta adalah pendekatan dalam merancang kurikulum pendidikan yang memadukan dua konsep penting, yaitu kearifan lokal dan dialog semesta.
Kearifan lokal mengacu pada penanaman nilai-nilai, budaya, tradisi, dan pengetahuan yang ada dalam suatu komunitas atau wilayah tertentu. Dialog semesta mengacu pada upaya untuk mengintegrasikan berbagai perspektif, pandangan, dan pengetahuan dari berbagai budaya dan komunitas di seluruh dunia.
Dialog semesta bertujuan untuk mempromosikan pemahaman antarbudaya, kolaborasi lintas batas, dan pengembangan pemikiran global.
Apakah pedang ini pantas untuk simbol–simbol kekatolikan?
Tidak, pedang pada umumnya tidak dianggap sebagai simbol yang pantas dalam Kekristenan, termasuk Katolik. Simbol-simbol yang umum digunakan dalam Kekristenan dan Katolik lebih menekankan pada kasih, pengorbanan, dan keselamatan, seperti salib, ikan, lambang Kiro, dan kitab suci.
Meskipun ada beberapa simbol yang terkait dengan pedang, seperti pedang Santo Mikael, penggunaannya terbatas dan tidak mewakili simbolisme utama dalam Kekristenan secara keseluruhan. Pedang lebih sering dikaitkan dengan peperangan, kekerasan, dan konflik, yang bertentangan dengan pesan utama agama Kristen tentang kasih dan damai.
pedang melambangkan kekuasaan atas hidup dan mati . Hubungan mendasar ini menjadikannya simbol alami otoritas dan kekuasaan.
Meskipun ada referensi tentang pedang yang digunakan oleh Santo Mikael, malaikat agung, dalam mengalahkan iblis, simbol ini lebih jarang digunakan dibandingkan dengan simbol-simbol lain yang disebutkan di atas. Pedang dalam konteks ini lebih melambangkan perjuangan rohani melawan kejahatan, bukan sebagai simbol umum dalam Kekristenan.
Ajaran sosial gereja tentang kebaikan dan kedamaian
Menekankan pentingnya kebaikan dan kedamaian sebagai nilai universal yang harus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. ASG berakar pada ajaran Yesus Kristus dan dipahami sebagai upaya membangun tatanan sosial yang adil dan harmonis, berdasarkan cinta kasih dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Ada beberapa point ajaran sosial Gereja tentang kebaikan dan kedamaian, diantaranya: perdamaian bukan ketiadaanya perang, cinta kasih sebagai penggerak, solidaritas, panggilan gereja.
Dengan demikian, ajaran sosial Gereja menawarkan pandangan yang holistik tentang perdamaian, yang tidak hanya berfokus pada ketiadaan konflik tetapi juga pembangunan tatanan sosial yang adil, harmonis, dan berlandaskan pada cinta kasih.
Dari semua ulasan di atas, kita dapat berkompetensi dan bertanya: apakah lambang Paskokat tersebut relevan dan merefleksikan ajaran sosial Gereja?
