Ambon, Pena-Rakyat.com – Jalan-jalan utama di Kota Ambon berubah menjadi panggung pertunjukan pada Sabtu (05/09/2026). Ribuan peserta tampil dalam Lomba Gerak Jalan Indah (LGJI) Amboina 2026, sementara warga berjubel di sepanjang rute untuk menyaksikan atraksi peserta.
Besarnya antusiasme itu dinilai menjadi alasan kuat agar LGJI tidak lagi hanya menjadi agenda tahunan daerah, tetapi naik kelas sebagai event pariwisata nasional.
Anggota DPRD Kota Ambon sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Ambon, Lucky Leonard Upulatu Nikijuluw, melihat LGJI memiliki modal yang tidak dimiliki banyak event lain: tradisi panjang, keterlibatan masyarakat, serta dampak ekonomi yang langsung terasa.
“Ini bukan sekadar gerak jalan. Ada tradisi, kreativitas, kebersamaan dan ekonomi masyarakat yang bergerak di dalamnya,” kata Lucky saat menghadiri pembukaan LGJI Amboina 2026.
LGJI Amboina telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kota Ambon selama hampir 45 tahun. Dari tahun ke tahun, kegiatan yang diinisiasi Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Daerah Kota Ambon itu terus mendapat sambutan masyarakat.
Bagi Lucky, konsistensi tersebut merupakan aset budaya yang patut dikembangkan. Apalagi peserta tidak hanya dituntut mampu melakukan gerakan baris-berbaris dengan rapi, tetapi juga menampilkan kreativitas melalui kostum, formasi, musik, hingga berbagai atraksi.
“Partisipasi publiknya luar biasa. LGJI ini menjadi ruang bertemu masyarakat sekaligus memperkuat semangat orang basudara,” ujarnya.
Ia pun mendorong Pemerintah Kota Ambon tidak berhenti pada dukungan penyelenggaraan. LGJI, kata Lucky, perlu dikemas lebih profesional dan dipromosikan lebih luas agar wisatawan dari luar Maluku tertarik datang ke Ambon.
Menurutnya, Pemkot Ambon dapat berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan kementerian terkait untuk mendorong LGJI masuk dalam kalender event pariwisata nasional.
“Kalau dikemas dan dipromosikan dengan baik, saya yakin orang dari luar daerah akan datang khusus untuk menyaksikan LGJI. Ini bisa menjadi salah satu daya tarik wisata Kota Ambon,” katanya.
Bukan hanya soal wisata, perputaran ekonomi selama LGJI juga menjadi perhatian. Peserta membutuhkan biaya untuk menyiapkan kostum, perlengkapan, latihan dan berbagai kebutuhan penampilan. Di sisi lain, pedagang dan pelaku UMKM mendapat peluang meningkatkan omzet karena ribuan orang berkumpul di sepanjang rute.
Lucky memperkirakan modal yang dikeluarkan satu regu peserta saja dapat mencapai lebih dari Rp15 juta.
“Putaran uang di Kota Ambon saat momentum LGJI sangat tinggi. Estimasi modal tiap regu saja bisa di atas Rp15 juta. Belum lagi UMKM dan pedagang kecil yang mendapatkan keuntungan dari ramainya masyarakat,” jelasnya.
Karena itu, ia menilai pengembangan LGJI harus dilakukan secara bersama-sama. Pemerintah memberikan dukungan dari sisi kebijakan dan promosi, sementara masyarakat tetap menjaga nilai persaudaraan yang selama ini menjadi kekuatan utama kegiatan tersebut.
“Yang paling penting adalah keharmonisan tetap dijaga. Jangan sampai persaingan dalam perlombaan menghilangkan semangat kebersamaan. Kita ingin LGJI terus hidup dan menjadi ruang bersama bagi seluruh masyarakat,” pungkas Lucky.








