Jakarta, Pena-Rakyat.com – Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin mudah diakses, plagiarisme, teknologi, hingga pudarnya proses berpikir kritis menjadi masalah yang dirasakan para tenaga pendidik di berbagai daerah.
Tantangan itu lah yang mempertemukan 38 guru dari berbagai daerah dalam Kamp Sahabat Teladan Integritas dan Antikorupsi (SATRIA) 2026 secara daring dan luring di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (08/09/2026).
SATRIA merupakan program pemberdayaan jejaring pendidikan antikorupsi yang dikembangkan Direktorat Jejaring Pendidikan (Jardik) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Program SATRIA dirancang guna mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengaktivasi guru sebagai penggerak pendidikan antikorupsi di lingkungan sekolah.
Melalui jejaring yang dibangun, para guru diharapkan tidak sekadar menjadi peserta pelatihan, melainkan teladan yang menghidupkan nilai integritas di tiap sekolah dan komunitas.
Ketua KPK Setyo Budiyanto, menyebut para guru sebagai perpanjangan tangan yang akan meneruskan nilai-nilai antikorupsi ke peserta didik, sesama guru, keluarga, hingga masyarakat sekitar.
“Kalau hanya mengandalkan institusi atau lembaga ini, sangat terbatas. KPK tidak punya perwakilan di Makassar, Banda Aceh, Bandar Lampung, dan lainnya. Bapak dan ibu adalah perwakilan kami, sahabat-sahabat antikorupsi,” ucap Setyo.
Pada akhirnya, terkadang membangun budaya antikorupsi harus dimulai dari sebuah ruang kelas, ketika seorang guru mengajarkan kejujuran tetap lebih berharga daripada jawaban instan tanpa usaha. Di tengah derasnya arus teknologi, para guru tetap memilih menghidupkan pelajaran paling mendasar, yaitu integritas.








