Ambon, Pena-Rakyat.com – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ambon Herman S. Tetelepta mengungkapkan sejumlah pasar di Kota Ambon hingga kini belum difungsikan karena persoalan utama terletak pada faktor lokasi, aksesibilitas, hingga minimnya minat pedagang dan pembeli.
“Hasil monitoring kami menunjukkan ada beberapa pasar yang sampai saat ini belum dapat difungsikan,”ucap Tetelepta kepada awak media di Balai Kota Ambon, Rabu (15/04/2026).
Sejak mulai bertugas pada akhir 2025, Disperindag langsung melakukan pemantauan ke sejumlah pasar. Dari hasil evaluasi, lokasi yang kurang strategis menjadi penyebab utama pasar tidak diminati masyarakat.
Ia mencontohkan Pasar Air Louw yang hingga kini belum beroperasi. Berdasarkan dialog dengan warga, mayoritas masyarakat lebih memilih berbelanja ke Pasar Mardika atau Batu Merah karena biaya transportasi yang lebih terjangkau, berkisar Rp5.000 hingga Rp7.000.
Sementara untuk menuju Air Low, warga harus menggunakan ojek dengan tarif sekitar Rp15.000. “Dari sisi efisiensi biaya transportasi, masyarakat tentu memilih lokasi yang lebih murah meskipun jaraknya lebih jauh,”jelasnya.
Selain faktor pembeli, rendahnya minat pedagang juga menjadi kendala serius. Meski pemerintah telah membuka peluang, hanya sedikit pedagang yang bersedia menempati pasar-pasar tersebut.
“Pertimbangan produktivitas dan tingkat keramaian menjadi alasan utama pedagang enggan berjualan di sana,”tambahnya.
Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Wainitu yang belum difungsikan akibat tidak memiliki akses jalan langsung. Untuk mencapai lokasi pasar, masyarakat harus melalui kawasan perumahan, sehingga dinilai kurang efektif.
Beberapa pasar lain, seperti di kawasan Nania, juga mengalami hal yang sama. Sebagai langkah tindak lanjut, Disperindag Kota Ambon telah melakukan koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk dengan camat, lurah, dan kepala desa setempat untuk mendorong pemanfaatan pasar.
“Kami berharap pemerintah wilayah dapat menginformasikan kepada masyarakat agar memanfaatkan pasar tersebut, baik sebagai pedagang maupun pembeli, sehingga bisa segera difungsikan,” ujarnya.
Terkait transportasi, Tetelepta menegaskan bahwa keberadaan angkutan umum sangat bergantung pada aktivitas pasar.
Jika pasar mulai ramai, peluang pembukaan trayek menuju lokasi akan semakin besar. “Kalau pasar sudah aktif dan ramai, tentu kita bisa dorong adanya trayek angkutan ke sana,” katanya.
Sementara itu, terkait potensi pengembangan pasar ikan di Air Louw, Disperindag belum memiliki rencana ke arah tersebut. Aktivitas perdagangan ikan saat ini masih terpusat di Pasar Arumbae, dengan pertimbangan utama pada sistem pengelolaan limbah.
“Penjualan ikan harus memperhatikan sistem pembuangan limbah. Jangan sampai menimbulkan masalah baru,”tandasnya.
