80 Tahun merdeka: sudahkah kita bayar lunas royalti kemerdekaan?

by -11 views

Ambon, Pena-Rakyat.com – Delapan puluh Tahun yang lalu, sebuah deklarasi singkat menggema, membelah keheningan dan mengubah takdir sebuah bangsa “kemerdekaan”.

Kata itu bukan sekadar hadiah, melainkan sebuah “royalti” yang dibayar mahal oleh darah, keringat, dan air mata para pahlawan. Mereka telah melunasi utang terbesar dalam sejarah Bangsa Indonesia.

Dan kini, diusia yang ke-80, tiba saatnya bagi kita untuk bertanya: sudahkah kita sebagai generasi penerus membayar lunas “royalti” tersebut?

Makna “royalti” disini jauh melampaui urusan finansial. Ia adalah pengingat akan tanggung jawab moral yang tak lekang oleh waktu. Para pahlawan kita bukan hanya berjuang melawan penjajah, tetapi juga menanam benih-benih persatuan dan harapan. Mereka mewariskan sebuah negara dengan kekayaan alam melimpah dan keragaman budaya yang tak ternilai.

Pertanyaannya: apakah kita telah mengelola warisan itu dengan bijak?

Lihatlah kekayaan alam kita, dari tambang hingga hutan, dari laut hingga kebun. Seharusnya, royalti yang dihasilkan dari sumber daya ini menjadi jaminan kesejahteraan seluruh rakyat.

Namun, seringkali kita masih melihat jurang kesenjangan menganga yang seharusnya menjadi hak setiap anak bangsa. Kita harus memastikan bahwa kekayaan alam tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga keadilan.

Disisi lain, royalti juga berkaitan dengan penghargaan terhadap karya anak bangsa. Delapan puluh Tahun kemerdekaan seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk menghargai dan melindungi kreativitas. Tetapi, para seniman, musisi, dan inovator kita masih sering berjuang melawan pembajakan dan kurangnya apresiasi.

Kita tak boleh membiarkan semangat mereka berkarya luntur begitu saja. Membayar royalti kepada mereka adalah bentuk nyata dari dukungan dan apresiasi kita terhadap kontribusi mereka dalam membangun identitas bangsa.

Lalu, bagaimana dengan kita individu-individu yang hidup di era ini?

Membayar royalti kemerdekaan bisa dilakukan dengan hal-hal sederhana. Seorang guru yang berdedikasi mendidik anak-anak, seorang petani yang tekun mengolah lahan, atau seorang wirausaha yang gigih menciptakan lapangan kerja. Setiap kerja keras dan kontribusi kita adalah wujud nyata dari “pembayaran” itu.

Di hari kemerdekaan yang ke-80 ini, marilah kita tidak hanya merayakan dengan gegap gempita, tetapi juga merenung. Mari kita kembali ke janji para pendiri bangsa. Janji untuk menciptakan Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat.

Sudahkah kita melunasi utang sejarah itu?

Jawabannya ada pada diri kita semua. Mari kita bayar lunas royalti kemerdekaan dengan kerja nyata, semangat persatuan, dan dedikasi tanpa henti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.