Ambon, Pena-Rakyat.com — PT Dream Sukses Airindo (DSA) Kota Ambon menunjukkan komitmennya menjaga keberlanjutan sumber air dengan ikut menggelar penanaman 1.000 pohon di kawasan Wairuhu, Air Besar (Arbes), Kota Ambon pada sabtu (29/08/2026).
Kegiatan ini digelar menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-451 Kota Ambon pada 7 September 2026 nanti.
Penanaman ribuan pohon ini tidak hanya menjadi gerakan penghijauan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kawasan resapan air, mencegah erosi dan mempertahankan ketersediaan sumber air bersih bagi masyarakat Kota Ambon.
Direktur PT DSA Kota Ambon Jeffry Riry.,S.H mengatakan kegiatan tersebut memiliki arti strategis bagi perusahaan karena keberlangsungan pelayanan air kepada masyarakat sangat berkaitan dengan kondisi sumber air dan lingkungan di kawasan hulu.
“Untuk PT DSA, kegiatan hari ini bukan sekadar agenda penanaman pohon. Ini adalah sebuah pernyataan komitmen kami.
Komitmen untuk menjaga lingkungan, menjaga sumber air dan yang paling penting memastikan pelayanan air bagi masyarakat Kota Ambon dapat terus berlangsung secara berkelanjutan,” kata Jeffry dalam sambutannya.
Jeffry menjelaskan, PT DSA merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam pelayanan air di Kota Ambon dengan jumlah pelanggan yang cukup besar. Saat ini, jumlah pelanggan PT DSA mencapai kurang lebih 11.000 pelanggan.
Besarnya jumlah pelanggan tersebut membuat keberadaan sumber air yang terjaga menjadi salah satu kebutuhan utama dalam memastikan pelayanan perusahaan tetap berjalan dengan baik.
Menurut Jeffry, air yang sampai kepada masyarakat bukan hanya persoalan sistem distribusi atau pelayanan setelah air masuk ke dalam jaringan. Jauh lebih penting adalah memastikan kawasan tempat air berasal tetap terlindungi.
“Air bukan hanya sumber daya alam, tetapi air adalah sumber kehidupan. Keberlanjutan air tidak hanya ditentukan oleh bagaimana air dikelola setelah berada di dalam sistem pelayanan, tetapi sangat ditentukan oleh bagaimana kita menjaga kawasan tempat air itu berasal,” ujarnya.
Dia mengatakan kondisi Sungai Wairuhu dan kawasan sekitarnya harus menjadi perhatian bersama.
Jika kawasan resapan dan tangkapan air terus mengalami kerusakan, kemampuan alam untuk menyerap dan menyimpan air akan semakin berkurang.
“Ketika sungai Wairuhu berada dalam kondisi kritis, Kota Ambon pun akan mengalami dampaknya. Ketika daerah resapan air habis, otomatis air yang turun ke hilir dan ketersediaan air bagi masyarakat juga akan berkurang, bahkan bisa habis secara alamiah,” jelas Jeffry.
Karena itu, menurutnya, menjaga sumber air harus dimulai dari menjaga kawasan hulu, hutan dan daerah resapan.
Dia menilai penanaman pohon merupakan investasi lingkungan yang manfaatnya tidak selalu dapat dirasakan secara langsung.
Namun, pohon yang tumbuh dan kawasan hijau yang terjaga akan menjadi bagian penting dari sistem alami penyimpanan air untuk masa depan.
“Ketika hari ini kita menanam pohon di kawasan Wairuhu, sesungguhnya kita sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar penghijauan. Kita sedang berinvestasi untuk keberlanjutan sumber air,” katanya.
Jeffry juga menyoroti karakter geografis Kota Ambon yang memiliki wilayah daratan terbatas. Berdasarkan data yang disampaikannya, Kota Ambon memiliki luas daratan sekitar 359,45 kilometer persegi, dengan sekitar 87 persen wilayah berupa daerah bergelombang hingga terjal.
Sementara wilayah yang relatif datar hanya sekitar 13 persen. Kondisi tersebut membuat ruang untuk permukiman, fasilitas publik, infrastruktur dan kegiatan ekonomi harus berjalan beriringan dengan kebutuhan mempertahankan kawasan hijau serta daerah resapan air.
“Bagaimana kita membangun kota tanpa kehilangan kemampuan alam untuk menyediakan air bagi kota itu sendiri. Inilah yang harus menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.
Jeffry juga menyampaikan data mengenai daerah aliran sungai. Wilayah DAS Batu Merah disebut memiliki luas sekitar 7.940 hektare, sementara DAS Waipia Besar sekitar 13.609 hektare.
Menurutnya, data tersebut menjadi pengingat bahwa sistem daerah aliran sungai harus dijaga karena kondisi kawasan hulu akan sangat menentukan kondisi kawasan hilir.
“Sebagian besar masyarakat mungkin hanya melihat keran air di rumah masing-masing tanpa melihat apa yang terjadi di kawasan hulu.
Jika hulu kita jaga, maka air memiliki kesempatan untuk tetap bersih. Jika daerah resapan kita pertahankan, maka air hujan dapat lebih banyak masuk dan tersimpan di dalam tanah,” tuturnya.
Jeffry menegaskan persoalan lingkungan tidak boleh baru ditangani ketika kondisi sudah kritis. Pencegahan dan pemulihan kawasan harus dilakukan sejak sekarang.
“Kita tidak boleh menunggu sampai sumber air mengalami persoalan baru kemudian kita bertindak. Pencegahan harus dimulai dari sekarang. Pemulihan harus dimulai dari sekarang,” tegasnya.
Jeffry mengatakan PT DSA tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga kawasan tangkapan air. Menurutnya, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi kepemudaan, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan.
“Pemerintah memiliki kewenangan dan kebijakan. Perusahaan memiliki tanggung jawab dan sumber daya.
Orang-orang muda memiliki kekuatan intelektual dan kepedulian sosial. Masyarakat memiliki peranan sebagai penjaga lingkungan di wilayahnya,” katanya.
Dia berharap gerakan penanaman pohon tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, keberhasilan kegiatan harus dilihat dari kemampuan seluruh pihak merawat bibit yang telah ditanam hingga tumbuh dan memberikan manfaat ekologis.
“Keberhasilan kegiatan penanaman pohon bukan diukur dari berapa banyak bibit yang kita tanam hari ini. Tetapi berapa banyak pohon yang mampu hidup, berapa banyak yang tumbuh dan seberapa besar kontribusinya terhadap keberlanjutan lingkungan dan sumber daya air,” ujar Jeffry.
Dia kemudian menyampaikan pesan sederhana yang menjadi prinsip dalam kegiatan tersebut. “Menanam adalah awal. Merawat adalah komitmen kita bersama. Menjaga adalah tanggung jawab kita bersama. Dan mewariskan lingkungan yang baik adalah tujuan kita bersama,” katanya.
Sementara itu, sambutan Walikota Ambon yang dibacakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon Apries B. Gaspersz, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan penanaman 1.000 pohon tersebut.
Pemkot Ambon menilai kegiatan di kawasan Wairuhu merupakan bentuk sinergi pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi kemasyarakatan, tokoh adat dan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Apries mengatakan krisis air bersih masih menjadi perhatian Pemerintah Kota Ambon, terutama di tengah kondisi kemarau dan rendahnya curah hujan.
“Kalau terjadi hujan, mari kita lestarikan kawasan hijau, fungsi hutan dan kawasan resapan air agar air hujan bisa masuk ke tanah, bukan langsung ke laut,” kata Apries.
Dia juga mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak, menghindari pemborosan dan memanfaatkan berbagai potensi tampungan air.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Pemerintah Kota Ambon Direktur PT DSA Kota Ambon Jeffry Riry beserta jajaran, perwakilan Dinas Kehutanan Provinsi Maluku, Raja Negeri Soya beserta Badan Saniri Negeri Soya, pimpinan studi dan riset pengembangan kawasan pesisir dan laut UIN Abdul Mukti Sangadji Ambon, Ketua ICMI Orda Kota Ambon beserta jajaran, PC IMM beserta jajaran, Ketua HMI Cabang Ambon beserta jajaran, DEMA UIN Abdul Mukti Sangadji Ambon, keluarga besar Komisariat IMM, Resimen Mahasiswa, Racana Al-Mulk, HMI, peserta penanaman pohon serta sejumlah awak media.
Penanaman 1.000 pohon tersebut kemudian dibuka secara resmi melalui sambutan Walikota Ambon yang dibacakan oleh Kepala DLHP Kota Ambon.
Gerakan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat perlindungan kawasan resapan dan tangkapan air sekaligus menjaga keberlanjutan sumber air bagi masyarakat Kota Ambon di masa mendatang.
