Oleh: Karwan Rumau
(Mantan Korkom IMM Unidar Ambon)
Ambon, Pena-Rakyat.com – Sejak awal berdiri dengan tujuan untuk menciptakan akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai cita-cita Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) menarik perhatian ditengah-tengah mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Tak kala dari Maluku, salah satu Provinsi di ujung timur Indonesia ini terhitung sekitar ratusan bahkan mendekati ribuan kader-kader yang berjubah organisasi merah maron itu.
IMM didirikan pada tanggal 14 Maret 1964 di Yogyakarta, memiliki tiga dasar utama yang dikenal sebagai Trilogi IMM, yakni Religiusitas, Intelektualitas dan Humanitas. Hadir bukan sebagai organisasi mahasiswa biasa, tetapi juga merupakan gerakan yang berupaya melahirkan kader-kader yang memiliki keseimbangan antara keilmuan, keagamaan, dan kepedulian sosial.
Kini telah berusia sekitar 61 tahun, organisasi itu tumbuh dengan berbagai dinamika dalam tubuh organisasi itu sendiri, bahkan para kader-kader dengan bermacam pengetahuan dengan agresif terhadap nilai-nilai organisasi yang diperjuangkan sejak awal oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Djazman Al-Kindi, Soedibyo Markus, dan Rosyad Saleh itu.
Ditengah gejolak perkembangan dunia, dari sekian banyak kader-kader IMM khususnya wilayah Maluku, Hamja Loilatu hadir dengan melihat dinamika organisasi yang banyak disodorkan dengan informasi yang jauh literasi. Hamja ibarat mukjizat yang datang dengan konsep IMM dijadikan sebagai lumbung intelektual untuk melahirkan kader-kader yang progresif dan militan. Sesuai dengan track recordnya semasa berkhidmat di IMM telah banyak meninggalkan warisan intelektual dan gerakan-gerakan sosialnya.
1. Basis Intelektual Pada Kader IMM
Salah satu pandangan penegasan untuk memperkuat basis intelektual pada kader IMM Maluku, tidak terlepas dari etos pergerakan organisasi, yang dikenal mengagungkan nilai spiritual intelektual dan humanitas, maka selayaknya pikiran kader harus di topang dengan nilai-nilai itu.
Gerakan kesadaran intelektual, kader IMM dapat menggemleng diri menjadi kader berakhlaq mulia serta berwawasan luas, demi mendakwakan nilai-nilai yang terkandung pada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Musyawarah Daerah (Musda) IMM Maluku ke 14 yang akan dilaksanakan beberapa Minggu mendatang
Bahwa momentum Musda IMM ini menjadi pesta demokrasi untuk para kader-kader mengekspor gagasan, menambah wawasan serta melatih mentalitas dihadapan forum resmi itu. Selain itu sebagai ajang kompetisi yang sehat, ukuran kualitas kader IMM akan terlihat jelas dalam mengaktualisasikan potensi intelektualitasnya sebagaimana terdapat pada trikompentensi kader IMM.
2. IMM Sebagai Lumbung Intelektual
Tawaran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Maluku sebagai lumbung intelektual Oleh Hamja merupakan sebuah gagasan yang akan memproduksi kader berkualitas, berdaya saing, serta menumbuhkan nilai kritis kader demi menghadapi tantangan era postruth dan distraksi digital yang seringkali menghanyutkan kita pada lumpur kebodohan. Maka, menjaga kualitas kader dengan mengadakan perpustakaan berjalan, demi mengaktifkan kesadaran membaca dan menulis.
Apalagi minat baca di Indonesia saat ini menunjukkan bahwa masih tergolong rendah. Bahkan UNESSCO menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia 0,001 persen, maka langkah membangun kesadaran membaca itu sangat penting, serta akan mendekatkan pada tujuan utama IMM “Menciptakan Akademisi Islam yang Berakhlak Mulia dalam Rangka Mencapai Tujuan Muhammadiyah.”
3. Perjalan Hamja dan Kegemaran Intelektual
Mantan ketua Cabang IMM Kota Ambon yang berdikari selama semasa menjadi mahasiswa pada kampus Universitas Darusalam Ambon, kini spirit pergerakan intelektualnya akan terus bergema kembali pada Musda IMM Maluku.
Penulis seringkali temukan disetiap kontestan forum, pria asal Kabupaten Buru Selatan itu seringkali hadir dengan pikiran berlian. Disamping konsolidasi organisasi, gagasan membentuk kader yang cerdas bercakrawala pandangan ke-islaman serta berfikiran progresif.
Gagasan besar Hamja Loilatu terlepas dari gerakan membangun sinergitas antara lembaga organisasi, pemerintah, masyarakat. Gagasan besar manjadikan IMM Maluku sebagai lumbung intelektual harus menjadi prioritas utama dalam menghadapi tantangan zaman.
