Ambon, Pena-Rakyat.com – Walikota Ambon Bodewin Wattimena ingatkan urusan hukum kepada Mujahidin Buano karena memfitnah menerima retribusi tambang ilegal.
Hal ini disampaikan pada Selasa (27/01/2026) dari akun facebook Bodewin Wattimena yang mengklarifikasi atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Ia menyampaikan dalam tulisannya bahwa kebebasan berpendapat tidak mengajarkan kita untuk seenaknya membangun narasi tentang seseorang atau jabatannya apalagi terhadap sesuatu hal yang belum dipastikan kebenarannya.
Bodewin menganggap kata “Tangkap dan Penjarakan” itu lebih tepat di tujukan kepada seseorang yang telah terbukti bersalah atau telah diputuskan bersalah berdasarkan keputusan yang berkekuatan hukum tetap.
“Jika bahasanya diduga, maka kedepankan asas praduga tak bersalah, karena semua memiliki hak yang sama di hadapan hukum,”tulis Bodewin.
Lanjutnya bahwa, gratifikasi berkaitan dengan pemberian sesuatu berupa uang atau barang kepada penyelenggara negara (pribadi) karena jabatan yang diembannya.
Retribusi adalah pembayaran atas jasa atau ijin kepada pemerintah (lembaga bukan pribadi).
Sebaiknya kita lebih hati-hati dalam menarasikan sesuatu, apalagi berkaitan dengan nama baik, kenyamanan pribadi dan keluarga.
Menghakimi seseorang dalam jabatan tidak menghilangkan unsur pribadi orang tersebut,”tulisnya.
Bodewin mengingatkan Mujahidin Buano, bahwa jika kita yang menarasikan malah mendapat manfaat dari proses tambang yang diinterupsi.
“Jika saudara yang menerima sesuatu dari pengelola adalah penyelenggara negara maka lebih tepat saudara disebut menerima gratifikasi, Hmmmm,”ujarnya.
Bodewin juga mengingatkan bahwa jika kita harus berurusan dengan hukum karena masalah ini, bukan karena Walikota Bodewin Wattimena anti kritik.
Tetapi flayer ini bukan lagi sebuah kritikan tetapi upaya pembunuhan karakter BETA baik sebagai pejabat publik maupun sebagai pribadi dihadapan publik.
Semoga kita saling menghargai karena hak kita untuk berbuat apa saja, tetapi hendaknya tidak menggelimir hak orang lain.
Diakhir tulisannya Bodewin menulis kalimat yang menjadi simbol politik dan kepemimpinan dirinya yaitu Beta Par Ambon, Ambon Par Samua.









