Ambon, Pena-Rakyat.com – Upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak terus menjadi prioritas Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Masyarakat Desa (DP3AMD) Kota Ambon.
Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, DP3AMD secara konsisten menjalankan berbagai program perlindungan dan pendampingan sebagai bentuk tanggung jawab dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi kelompok rentan.
Kepala DP3AMD Kota Ambon Megy Lekatompessy menjelaskan bahwa langkah pencegahan dilakukan melalui edukasi berkelanjutan, khususnya di lingkungan sekolah.
Sosialisasi menyasar peserta didik dan tenaga pendidik dengan pendekatan yang disesuaikan, mulai dari penguatan nilai keagamaan hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang pencegahan dan penanganan kekerasan. Menurutnya, sekolah menjadi titik strategis dalam membangun kesadaran sejak dini.
“Di sekolah sebenarnya sudah ada tim pencegahan dan penanganan kasus. DP3AMD berperan memperkuat manajemen penanganan agar setiap laporan kekerasan dapat ditindaklanjuti secara cepat, tepat, dan terukur,” jelas Megy pada harga Selasa (10/02/2026).
Selain pencegahan, DP3AMD juga memastikan pendampingan korban dilakukan secara berkelanjutan, menyesuaikan kebutuhan psikologis, hukum, dan sosial korban.
Berdasarkan data DP3AMD, kasus kekerasan terhadap perempuan di Kota Ambon menunjukkan tren fluktuatif dalam tiga tahun terakhir, yakni 54 kasus pada 2023, meningkat menjadi 56 kasus pada 2024, dan kembali naik menjadi 59 kasus pada 2025.
Sementara itu, kasus kekerasan terhadap anak masih tergolong tinggi dengan 82 kasus pada 2023, 73 kasus pada 2024, dan 81 kasus pada 2025, didominasi oleh tindak persetubuhan dan pencabulan terhadap anak di bawah umur.
DP3AMD menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi dengan sekolah, tokoh agama, dan masyarakat guna menekan angka kekerasan secara berkelanjutan.








