Ambon, Pena-Rakyat.com – Mendahului meminjam ungkapan Robert Green Ingersol (1883-1899), seorang penulis Amerika bahwa, “dia mencintai negaranya yang terbaik, yang berusaha untuk menjadikannya yang terbaik.” Qoutes ini tidak saja beberapa katanya mirip dengan judul dari biografi Marsekal Muda (Marsda) TNI Purn. Leonardus Williem Johanes Wattimena (1927-1976), tapi serupa dengan sosok perwira tinggi (Pati) berdarah Ambon-Manado ini yang mencintai negaranya, dimana tampil terbaik dari yang terbaik di beberapa front pertempuran udara dari Sumatera, Sulawesi hingga Papua Barat, yang selalu menuai sukses.
Buku biografi dengan judul: “Leo Wattimena Jadilah Yang Terbaik Dari Yang Terbaik,” yang ditulis mantan wartawan senior Harian Kompas James Luhulima setahun yang lalu tersebut, tentu menarik. Pasalnya menambah wawasan histografi kita tentang sosok Leo Wattimena, yang memiliki peran besar dalam dunia penerbangan militer kita melalui Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dalam mengintegrasikan wilayah Indonesia, baik itu terhadap sesama anak bangsa dan terhadap kolonialisme Belanda, yang hendak bercokol di ujung timur republik ini.
Atas dedikasinya yang penuh dengan keberanian dan ketabahan tekadnya sebagai seorang prajurit yang melebihi panggilan kewajiban dalam operasi militer diberbagai front tersebut, Leo Wattimena kemudiab diganjar Bintang Sakti, suatu tanda kehormatan yang diberikan Pemerintah Republik Indonesia kepadanya.
Secara umum Leo Wattimena dikenal sebagai orang yang berani, memiliki prinsip yang kuat, ulet, disiplin, galak dan sekaligus juga berangsangan, atau istilah sekarang tempramental. Namun, walapun Leo Wattimena dikenal berani dan tempramental, tetapi pada saat menerbangkan pesawat tempur, ia adalah orang yang penuh perhitungan.
Karakternya yang demikian ditunjukannya, dimana dari sekian banyak manuver aerobatik yang dilakukannya, manuver aerobatik yang paling legendaris adalah ketika Leo Wattimena menerbangkan pesawat tempur MIG-17 menyambar dibawah kolong Jembatan Ampera Palembang, Sumatera Selatan yang melintang diatas Sungai Musi.
Ada juga manuver lain yang tidak kalah gilanya, dan tidak kalah bahayanya, yakni ketika Leo Wattimena terbang cepat menyelip diantara tower dan tiang bendera di Pangkalan Angkatan Udara (PAU) Adisucipto, Yogyakarta. Kalau ia terbang straight and level, pasti menabrak. Untuk menghindari terjadinya hal itu, ujung sayap yang satu ditarik Leo Wattimena ke bawah, atau ia menerbangkan pesawat tempurnya dengan kemiringan 90 derajat.
Sejak era Pemerintahan Orde Lama hingga saat ini, tidak saja warga Maluku yang bangga terhadap Leo Wattimena, tapi seluruh warga Indonesia memiliki kebanggan terhadapnya. Sehingga ia dikenal sebagai sosok penerbang legendaris Indonesia. Biografi ini terdiri dari empat bab, diantaranya : 1) Sang Legenda, 2) Jalan Hidup dan Karir, 3) Dikenal oleh Soeharto, Menyelamatkan Dirinya, 4) Pribadi yang “Colourful”.
Rupanya tak selamanya roda pedati selalu di atas, fenomena ini dirasakan Leo Wattimena. Tatkala ia sedang senang miniti karir milternya di AURI, dengan mengemban tugas sebagai Deputi Menteri Panglima Angkatan Udara (Men/Pangau). Namun pada tahun 1969 ia ditunjuk Presiden Soeharto menjadi Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Italia. Baginya tugas ini merupakan tindakan pembuangan atau penyingkiran. Dari sinilah merupakan titik akhir karier militernya di AURI, dimana ia kemudian meminta pensiun dini dari AURI pada 15 Agustus 1971 setelah 21 tahun ia mengabdi.
Oleh: Dr. M. J. Latuconsina,.S.IP,.MA
(Staf Dosen Fisipol UNPATTI)








